PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA SUMBERDAYA STAF

A. Argumentasi
Perhatian pada kinerja dimulai pada saat manusia mulai memikirkan usaha untuk melepaskan diri dari belunggung kemiskinan setelah Revolusi Industri di Inggris pada abad kedelapan belas, usaha ini dilakukan lebih ilmiah, sistematis dan dalam berbagai bidang (Ravianto, 1986 : 4 )
Sebagai kelanjutan dari revolusi industri adalah ditemukannya alat produksi berupa mesin-mesin dan peralatan yang makin maju dan pintar. Meskipun demikian aspek manusia dalam proses produksi selalu saja menjadi perhatian utama. Mengapa ? Karena manusia-lah perencana dan pelaksana proses produksi itu. Manusia adalah yang paling berpengaruh sehingga diperlukan upaya-upaya untuk memahami kemauan atau dorongan dari dalam setiap manusia.
Memahami dorongan-dorongan dari dalam sehingga dapat mengelola sumberdaya ini sebaik mungkin adalah salah satu aspek manajemen paling penting sekaligus sukar direalisasikan. Dalam konteks ini adalah bagaimana memotivasi pekerja sedemikian rupa sehingga mereka senang melakukan apa yang menjadi tugas mereka untuk meningkatkan kinerja.
Indikator keberhasilan seseorang pemimpin adalah keberhasilan para sumberdaya aparaturnya dalam menyelesaikan tugas dan melaksanakan tanggungjawab yang diberikan dan hal ini tidak bisa dipisahkan dengan motivasi yang telah diberikan kepada para sumberdaya aparatur, tentunya sebagian besar memotivasi untuk bekerja lebih produktif terletak pada diri sumberdaya staf itu sendiri, namun tidak terlepas pula dari pengaruh pimpinannya, dimana pimpinan yang berhasil memberikan contoh akan menciptakan suatu keadaan yang menggerakkan perilaku sumberdaya aparatur ke tujuan yang dapat memberikan pemenuhan kebutuhan dan kepuasannya. Gaya kepemimpinan dalam organisasi menjadi kunci penentu terhadap peningkatan kinerja sumberdaya aparatur pada Lingkungan kerjanya.
Penilaian kinerja terhadap personal dan organisasi secara keseluruhan dimulai dari uraian tugas dan fungsinya, merupakan hal yang harus dilakukan untuk mengetahui sudah seberapa besar yang telah dicapai dan bagaimanan kebutuhan dari organisasi dan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi baik langsung maupun tidak langsung. Melalui penilaian kinerja organisasi akan dapat diketahui apakah kinerja personal dalam organisasi sudah sesuai dengan yang diharapkan atau masih membutuhkan bantuan dari pihak luar sehingga apa yang diinginkan dapat dicapai..
1. Tujuan
Memberikan pencerahan ilmiah dan pembelajaran kepada pembaca terhadap upaya dalam rangka peningkatan kualitas personal untuk menjadi seorang pemimpin.
2. Teori Perilaku ( behavior)
Pendekatan dengan teori perilaku mencoba untuk melihat dan menemukan bagaimana perilaku para pimpinan yang efektif, bagaimana mereka melakukan instruksi,konsultasi,partisipasi dan pendelegasian tugas, serta berkomunikasi, memotivasi, pemberian sanksi atau hukum dan lain sebagainya.
Melalui pendekatan ini diharapkan memberikan jawaban yang lebih definitive mengenai kepemimpinan, yaitu dengan mengidentifikasikan perilaku-perilaku tertentu yang dipergunakan oleh pemimpin, sehingga dengan demikian dapat mempersiapkan orang-orang untuk menjadi pemimpin melalui pelatihan kepemimpinan.

3. Metode penelitian
Teknik peniltian yang digunakan pada penulisan ini adalah kepustakaan dimana penelahan terhadap permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini tidak terlepas dari tulisan ilmiah (buku-buku) yang berhubungan dengan kepemimpinan dan kinerja.
B. Pembahasan.
1. Kepemimpinan
Secara etimologi pemimpin dan kepemimpinan berasal dari kata pimpin (to lead) kemudian dengan penambahan imbuhan (konjungsi) beruba menjadi pemimpin (leader) dan kepemimpinan (leadership). Dalam kepemimpinan terdapat hubungan antara manusia yaitu hubungan mempengaruhi ( dari pemimpin ) dan hubungan kepatuhan / ketaatan para bawahan karena dipengaruhi oleh kewibawaan pemimpin.
Pemimpin dan kepemimpinan tersebut bersifat universal, artinya selalu ada dan senantiasa diperlukan pada setiap usaha bersama manusia dalam segenap organisasi ( baik organisasi bisnis maupun pemerintahan ) mulai dari tingkat yang paling kecil atau inti, yaitu keluarga, sampai pada tingkat lokal, regional sampai nasional dan internasional, dimanapun dan kapanpun.
Secara etiologi telah banyak konsep yang telah dikemukakan oleh para ahli tentang pengertian pimimpin dan kepemimpinan. Diantaranya Alan C Filley dalam kutipan moeftie W (1967) merumuskan pengertian pemimpin dan kepemimpinan sebagai berikut :
Kepemimpinan adalah proses seseorang menggunakan pengaruh kemasyarakatannya, terhadap para anggota suatu kelompok lainnya (leadership is a process where by one person exert social influence over the member of the group ). Sedangkan pemimpin adalah seorang dengan daya kekuatannya terhadap orang lain melakukan wewenang untuk tujuan mempengaruhi tata laku mereka (a leader is a person with power over other who exercise this power for the purpose of influencing their behavior ).
Sedangkan Kertini Kartono (1992 :25) memberikan pengertian pemimpin dan kepimimpinan sebagai berikut : Pemimpin adalah seorang pribadi yang memeliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan kelebihan di suatu bidang sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan, sedangkan Kepimimpinan adalah suatu proses yang mengarahkan dan mempengaruhi serta melibatkan / menggerakkan orang lain atau kelompok orang untuk mencapai tujuan seseorang atau kelompok dalam situasi tertentu. Kepemimpinan tersebut terjadi jika di dalamnya terpenuhi unsur-unsur sebagai berikut :
a) Ada orang -orang atau pihak yang mempengaruhi atau menggerakkan ( yang memimpin/pimpin).
b) Ada orang-orang atau pihak yang dipengaruhi atau digerakkan untuk mencapai tujuan tertentu ( yang dipimpin/bawahan).
Pengertian kepemimpinan demikian mempunyai ruang lingkup yang luas. Artinya bisa saja terjadi diluar organisasi / perusahan yang tampa dibatasi oleh aturan dan birokrasi serta tata krama organisasi. Dengan kata lain bahwa manajemen/manajer merupakan jenis pemikiran yang khusus dari kepemimpinan.
2. Kinerja
Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya dapat dilihat dengan adanya kinerja menunjukan hasil kerja yang dicapai oleh seseorang. Seperti dikemukakan Dharma,1991 : 1, Kinerja adalah sesuatu yang dikerjakan atau produk / jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang. Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu (Hasibuan, 1991 : 105 ).
Dari dua pendapat diatas maka dapat diambil satu pengertian bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai olah seseorang dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya dengan penuh kedisiplinan. Kinerja yang baik merupakan suatu langkah menuju tercapainya tujuan organisasi. Sehingga kinerja merupakan sarana penentu dalam mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk meningkatkan kinerja. Namun hal tersebut tidaklah mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja seseorang, fakto-faktor tersebuat diantaranya adalah :
a) Faktor individu; secara psikologi,individu yang normal adalah individu yang memiliki integgritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisiknya,artinya dengan adanya integgritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisik maka individu tersebut memeliki konsentrasi diri yang baik karena hal ini merupakan modal utama individu manusia untuk mampu mengelola dan mendayagunakan potensi dirinya secara optimal dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan kata lain, tanpa adanya konsentrasi yang baik dari individu dalam kerja, maka harapan pimpinan terhadap mereka untuk dapat bekerja produktif dalam mencapai tujuan organisasi menjadi mimpi/sia-sia. Konsentrasi individu manusia dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh kemampuan potensi, yaitu kecerdasan pikiran/Inteligensi Quotiont (IQ) dan kecerdasan emosi/Emotional Quotiont (EQ).
b) Faktor lingkungan Organisasi ; faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai. Sekalipun, jika faktor lingkungan organisasi kurang menunjang, maka bagi individu yang memiliki tingkat kecerdasan pikiran memadai dengan tingkat kecerdasan emosi baik, sebenarnya ia tatap dapat berprestasi dalam bekerja.
C. Implementasi Konsep Kepemimpinan dalam meningkatkan kinerja staf di Balai Besar Diklat.
1) Penerapan gaya kepemimpinan efektif.
Individu manusia adalah mahluk sosial yang diciptakan Allah dan diberikan kelebihan melebihi ciptaan Allah yang lain,manusia disebut khalifa atau pemimpin karena dia diberikan hati dan pikiran, oleh karena itu bila kita mau menjadi manusia yang selalu membawah kesejukan bagi orang lain dimanapun kita berada baik secara individual maupun secara kelompok sebaginya kita mampu memfungsikan hati dan pikiran kita secara optimal agar apa yang kita berbuat selalu adil, konsep ini sudah digambarkan Allah Tuhan Yang Maha Esa melalui utusan-utusanNya. Kata kunci, pemimpin yang efektif itu mernurut penulis ada pada Kepemimpinan : Musa AS Nabi Allah, Daut AS Nabi Allah, Isa AS Nabi Allah Dan Muhammad SAW Nabi Allah.

2) Peningkatan kinerja.
a) Faktor Individu
Manusia kalau dilihat dari sudut pandang psikologi kerja pada hakekatnya ada dorong yang kuat dari diri individu itu untuk datang kekantor bekerja sebagi seorang PNS karena terdorong oleh faktor psikis dan fisik, keterpanggilan ini dituntut dengan kesiapan diri yang siap, tapi perlu kita ketahui bahwa individu manusia itu tidak semua memeliki motivasi kerja yang tinggi tapi ada juga manusia memeliki motivasi kerja yang rendah, Hal ini membuat manusia sangat peka dalam menempatkan dirinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan diberikan oleh atasan kepadanya.
Kinerja dapat diukur dari kemampuan diri yang diekspresikan terhadap penyelesaian kasus yang di hadapi individu manusia dalam beraktivitas atau perintah tugas yang diberikan pimpinan kepadanya kapan dan dimana saja manusia itu bekerja. Oleh sebab itu upaya untuk meningkatkan pengembangan kualitas diri, agar diri kita tumbu menjadi sumber daya manusia yang siap dan mampu bekerja dengan penuh konsentrasi,memeliki tingkat inteligensi minimal normal serta tidak menghadirikan tingkat kecerdasan emosi yang bersifat tidak merasa bersalah yang berlebihan, mudah mara, mudah dengki, mudah benci, iri hati, dendam, sombong, minder dan selalu cemas… ( Enjoin aje ).
b) Lingkungan Organisasi Balai.
Hal yang dimaksudkan pada lingkungan kerja organisasi balai menurut penulis adalah merupakan sebua sistem yang terbentuk dan dikemaskan pada suatu struktur organisasi yang dibentuk oleh aturan, mekanisme dan etika kerja yang dapat diukur melalui impementasi tupoksi dari subsistem yang ada.
Sistem itu merupakan suatu kekuatan yang terorganisir tapi…,bagaikan sebua bola kristal yang segaja diletakkan diatas meja kaca yang berukuran besar serta memeliki grafik mata angin yang menghubungkan sudut yang satu dengan sudut yang lain tapi tetap dalam satu lingkaran tembus pandang, kapan saja bola kristal ini dapat dipindahkan,digelintirkan atau dilimparkan bahkan bisa dihancurkan itu tergantung siap individu manusia yang mau melakukannya….. ? atau bisa saja bola kristal ini harus diamankan agar tidak jatu dan tidak picah itupun tergantung siap individu manusia yang mau melakukannya ……? Agar bola kristal tidak picah atau dihancurka maka kita perlukan orang-orang, disiplin,prinsip, disaider, pelindung dan motivator yang memeliki psikis dan fisiknya yang prima, agar terbangunlah kolaborasi yang sehat,indah dan sempurna untuk menyulam kebolongan – kebolangan sistem yang terjadi pada sistem dan sub sistem organisasi tersebut.Sangat perlu sekali kalau kita bangun kesadaran kita bahwa; ketidak tauan saya/staf ada pada staf yang lain, ketidak tauan staf itu ada pada pimpinan, ketidak tauan pimpinan itupun ada pada pimpinan yang lain. Jika konsep ini bisa terbangun maka penulis optimis kita bisa mencapai keunggulan dan profesionalitas ke-Diklatan itu.
D. Kesimpulan.
 Marilah kita membangunan ketahanan sistem yang kuat pada suatu organisasi, maka seorang pemimpin harus mampu melihat dan bisa menterjemakan bagaimana prilaku para staf dalam melaksanakan perintah dan kebijakan yang ditetapkan atas nama organisasi karena keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan program harus didukung pula dengan adanya kinerja staf melalui tupoksi yang jelas dan juga harus dapat menunjukan hasil kerja yang dicapai secara universal.
 Kompetensi merupakan tindakan emosional dari individu manusia yang bisa berakibat baik, bisa juga berakibat buruk tinggal magaimana manusia itu mampu memanfaatkannya, secara psikologi individu manusia pasti mau berbuat lebih banyak lagi dengan kecerdasan emosi yang dia meliki, namun hal tersebut kadang terhalang dengan iklim kerja yang kurang respek dan tidak dinamis atau bisa saja dari lemahnya faktor SDM, sehingga dituntut kepekaan seorang pemimpim yang sangat bijaksana dalam mengakomodir semuanya.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: